Judul : Menjadi Manusia Pembelajar
Penulis : Andrias Harefa
Penerbit : Kompas, 2000
Tebal : 244 halaman
Akar utama permasalahan sistem pendidikan di Indonesia adalah ketidakjelasan visi-misi pendidikan nasional dan pengacauan serta pemisahan makna pendidikan (educating) menjadi sekedar pengajaran (teaching) dan pelatihan (training).
Dunia pendidikan telah mengikuti antagonisme “gaya bank” dan monolog, bukan dialog. Lembaga-lembaga pendidikan tidak sukses menelurkan lulusan yang punya ilmu pengetahuan (knowledge), tetapi tidak mempunyai keahlian (skill) dan ilmu kehidupan (wisdom).
Berangkat dari hal inilah penulis mulai berfilsafat “apa dan siapa saya?”. Ia hanya ingin menjadi dirinya yang seutuhnya, dan mengeluarkan segenap potensi dirinya.
Tugas utama manusia dalam proses menjadi dirinya yang sebenarnya adalah menerima tanggung jawab untuk menjadi pembelajar bukan hanya di gedung sekolah dan perguruan tinggi. Itulah keunikan manusia dibandingkan dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya, khususnya binatang.
Manusia dapat belajar tentang, belajar, dan belajar menjadi (jika objeknya manusia-red) dirinya sendiri. Ignas Kleden menjelaskan bahwa belajar tentang berarti mengetahui sesuatu, sedangkan belajar berarti mempraktikkan sesuatu.
Permasalahannya adalah bahwa sebagian manusia tidak mendisiplinkan dirinya untuk teta belajar tanpa henti, atau sebagian besar berhenti setelah “merasa” dewasa (dapat gelar, berusia diatas 17 tahun, nikah, dapat pekerjaan).
Manusia-manusia yang telah merasa dewasa tetapi sebenarnya “kerdil” ini pun cacat dalam 4 aspek komunikasi, yaitu listening, speaking, reading, dan writing.
Listening (menyimak) misalnya, tidak sama dengan mendengarkan (hearing). Hearing berhubungan dengan telinga (fisik), sedangkan listening berhubungan dengan aspek non-fisik (sosial, mental dan spiritual).
Jakob Sumardjo mengatakan bahwa manusia “hidup untuk belajar”, bukan “belajar untuk hidup”. Bila manusia belajar untuk hidup, maka yang ia targetin hanyalah jabatan. Ia akan merasa puas ketika sudah habis program studinya. Sedangkan bila manusia hidup untuk belajar, ia tidak mementingkan gelar atau symbol-simbol seperti ijazah. Yang terpenting adalah mengeluarkan semua potensi dirinya dan membuat dirinya nyata bagi sesamanya.
Internet, di era globalisasi ini menjadi salah satu kebutuhan manusia. Internet mampu mengubah sikap hidup manusia, tetapi tidak bisa menggiring manusia untuk berfikir keluar. Internet juga tidak bisa menggeser paradigma seseorang, sehingga tidak bias memaksa manusia untuk mengubah paradigma nya hingga mau menjadi manusia pembelajar
Tiga peran panggilan/tanggung jawab kemanusiaan adalah menjadi pembelajar (tingkat dasar), kemudian menjadi pemimpin (tingkat menengah), dan akhirnya menjadi seorang guru (tingkat tinggi).
Ketika seseorang sudah sukses menjadi pembelajar, maka ia bias menjadi pemimpin pemimpin adalah seseorang yang siap mendemonstrasikan dirinya bagi masyarakat seutunya, dan bisa mengeluarkan potensi-potensi manusia yang dipimpinnya.
Tugas dan panggiln tertinngi seorang manusia adalah menjadi guru. Ia bertanggungjawab untuk menciptakan suatu masyarakat pembelajar yang melahirkan pemimpin-pemimpin baru bagi sebuah bangsa, bagi bangsa-bangsam dan seluruh umat manusia di masa depan. Manusia “guru” dapat dibedakan dalam tiga kategori.
Yang pertama adalah “Guru Bangsa”, yakni mereka yang mempengaruhi sebuah bangsa dalam konteks yang biasa disebut negara kebangsaan. Yang kedua adalah “Guru Bangsa Bangsa”, yakni mereka yang pengaruhnya menembus tembok-tembok psiko-sosial dalam arti batas-batas negara kebangsaan. Dan yang terakhir adalah “Guru Umat Manusia”, yakni mereka yang keluasan dan kedalaman pengaruhnya telah menyentuh hampir seluruh dimensi kehidupan umat manusia.
Istilah “Guru Bangsa” pernah ditujukan kepada segelintir anak bangsa Indonesia , antara lain: Bung Karno, Bung Hatta, Sutan Syahrir, dan para pahlawan atau perintis pejuang kemerdekaan Indonesia .
Nelson Mandela, Dalai Lama, Kofie Anann, adalah beberapa orang yang bisa disebut Guru Bangsa-Bangsa. Bila seorang Guru Bangsa memberikan pengaruh pada tingkat sebuah bangsa, maka Guru Bangsa-Bangsa memberikan inspirasi yang menembus batas-batas negara kebangsaan.
Sedangkan Nabi Muhammad, Yesus Kristus, Sidharta Gautama, dan Konfusius, adalah contoh dari Guru Umat Manusia. Mereka ini adalah orang-orang yang diyakini sebagai pembentuk sejarah peradaban dunia sejak ribuan tahun lalu.
Much love,

0 comments:
Post a Comment