May 19, 2016

Setia itu Pilihan.



(pic credit : pinterest @meenpug)


Mengingat akhir-akhir ini banyak sekali orang baru di kehidupan gue, lingkungan baru, gaya hidup baru, maka muncul juga satu pertanyaan baru di benak gue, tentang sebuah kata: Loyalitas.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Loyalitas artinya adalah kepatuhan, kesetiaan. Menurut gue sendiri, loyalitas itu erat kaitannya dengan prinsip hidup.

Begini.. belakangan ini gue banyak banget ketemu orang dengan berbagai latar belakang, umumnya jauh lebih tua daripada gue. They are married. Gue mungkin salah satu orang paling muda diantara orang2 baru ini. Gue banyak belajar tentang etos kerja, teknik, skill, sampai bagaimana cara memenangkan hati klien.

Namun, entah kenapa hal-hal baru yang datang selalu sepaket: baik dan buruknya. Buruknya, gue malah jadi mempertanyakan hal yang gue sebutkan di atas: Loyalitas

Seberapa besar sih loyalitas yang lo punya dan memegang peranan dalam hidup lo?

Seberapa besar arti kesetiaan yang lo harapkan dari orang-orang sekitar lo?

Misal, seorang pekerja yang loyal akan bertahan terus di perusahaannya meskipun gajinya minim, namun mungkin atasannya memberikan kenyamanan bekerja untuknya.

Seorang guru yang setia mengajar dan memberikan pengetahuan terbaik kepada anak didiknya meskipun tanpa tanda jasa untuknya.

Seorang istri/suami yang setia kepada pasangannya meskipun harus makan sepiring berdua… halah. :D

Soal kesetiaan juga yang akhir2 ini sering jadi beban fikiran sendiri jauh di dalam benak gue. Orang-orang baru yang gue temuin ini serupa, tapi tak sama. Punya istri, tapi main gila dengan rekan sejawat. Punya anak, tapi hobinya kobam.

Apa pernikahan itu cuma jadi sebuah legalitas? Ada yang nyeletuk “ah nanti lo juga ngerasain sendiri… bosen sama istri/suami lo.. refreshing dikit gakpapa lah..”
Masya Allah. Amit2 (ketok pala).

Kalo masalah bosen, gue juga belom ngejalanin pernikahan jadi ga tau. Tapi selama prinsip loyalitas masih lo pegang, ditambah janji Akad, gue rasa sih kalo lo masih ga setia setelah jadi suami/istri, ada yang salah dalam otak lo.

Setia itu pilihan sih, bukan kesempatan.

Jadi manusia yang udah dikasih akal pasti bisa milih, mau setia atau engga. Bukan tergantung kesempatan yang datang.

Gue jadi was-was sendiri, apa bener kehidupan setelah pernikahan jadi se-serem ini? Lo ngerasain bosen, udah ga ada lagi “sparks” kaya lo pacaran karena semua benteng2 sudah dirubuhkan atas dasar pernikahan.

Gimana dengan anak? Itu kan harta, titipan Allah buat lo di dunia. Kalo lo aja gak setia sama pasangan, lo gak malu dengan anak lo? Yang meskipun gak tau apa2, tapi lo gak pantes jadi contoh yang baik buat dia. Lo gak amanah, gak bisa menjaga titipan Allah dengan baik.

Maap2 jadi kebawa emosi.. abisnya masih gak habis fikir aja. Loyalitas itu sekarang ada dimana?
Yang punya suami/istri aja bisa selingkuh.. apa kabar dengan yang masih pacaran? Apa kabar dengan yang namanya kesucian perasaan yang Tuhan berikan cuma-cuma?

Di dunia ini apalagi sih yang gak bisa dibeli dengan uang? Selain keluarga, sahabat, cinta dan kesetiaan?

Titip do’a ya, Tuhan. Jauhkan hamba dari segala bentuk ke-tidak-loyal-an sebagai manusia dengan akal sehat dan perasaan yang tanpa cacat.

Cilandak, 19 Mei 2016
18.11




Share:

Jul 1, 2015

It's Over (?)

Perjuanganku selesai. Hampir 5thn kita merajut asa, 7th kau berusaha menyelesaikan yg tertunda. Kemarin, masih di akhir bulan Juni, satu babak selesai dalam hidupmu. Begitu tenang, lega, bahagia dan bersiap jadi satu.

Kau tahu? Bahwa kemarin tiap detik aku menunggu kelulusanmu. Bukan untuk egoisku, tapi masa depan yg akan kau tempuh selanjutnya, juga tanggung jawabmu kepada orang tua.

Kau tahu? Sudah sejak berminggu2 lalu aku ingin mendampingimu saat sidang berlangsung, membawakanmu sesuatu untuk menyemangati. Namun kau sendiri tahu betapa padat jadwal kerjaku. Aku hanya berjanji akan menemuimu selepas kerja, itu juga aku masih harus bertemu teman2 dahulu untuk berbuka puasa.

Kau tahu? Disela2 padatnya deadline kerjaku kemarin aku masih sempat keluar kantor dan berpanas2 ria mencarikan sesuatu untukmu? Yang mungkin dari kemarin tidak sempat memejamkan mata demi kelulusan dalam dunia akademik. Aku tak peduli deadline dan telepon yg mengejar, yg aku tahu aku harus membuatmu merasa "sedikit" berbahagia dgn hari kemarin. Ya, sedikit saja. Aku tak berharap banyak :)

Kau tahu, seharian kemarin aku hanya memikirkan betapa bahagianya kamu jika sudah melewati fase ini. Betapa masa depanmu akan dimulai dgn hal yg bahagia. Betapa banyak org yg menunggu hari kemarin untukmu. Pun aku, yg di kantor lebih fokus membuat prakarya untukmu, daripada menyelesaikan kerjaannku. Haha, kamu harus tahu meja kerjaku kemarin seperti meja anak playgrup, bukan seperti pekerja kantoran. Tak apa, aku lebih bahagia, pun rekan2ku berkata aku tampak begitu bersemangat kemarin.

Kau tahu? Aku menunggu saat kita bertemu malam kemarin. Saat aku selesai bertemu teman2ku. Aku membayangkan menemanimu makan malam (ya, aku tahu kau pasti belum berbuka puasa dgn makanan yg berat) sekaligus memberikan hasil buah tanganku. Meskipun kita berdua terburu waktu, kita berdua sama2 lelah akan hal yg berbeda, tapi aku berharap malam singkat itu bisa membuatmu yakin kalau aku betul2 peduli dengan dirimu.

Kau tahu? Begitu kita bertemu aku melihat mukamu begitu lelah, apalagi harus menjemputku. Kenapa tidak bilang kalau kita sebaiknya bertemu tanpa kau harus menjemputku? Ah pasti kau tidak enak hati. Tapi kan kita sudah berjanji untuk saling mengerti? Pasti semuanya tidak jadi begini... :(

Sampai akhirnya ketika kau ku ajak berhenti untuk makan dan menolak, hingga berkali-kali, aku tahu ini akan berakhir tak baik. Aku menyerah, pasrah, karena kau merasa begitu lelah hingga tak kuasa untuk kita berdua makan walau hanya sebentar saya. Kecewa menyelusup ke rongga2 dada, memenuhi dan sesak setelahnya.

Kau tahu kan? Aku begitu cengeng. Airmataku pun sudah tak lagi tertahan, jalan pramuka menjadi saksi. Betapa hati ini kecewa, betapa malam kemarin tak memihak pada kita. Padaku. Aku merasa konyol.

Kau tahu? Aku hanya ingin secepatnya membenamkan wajah, membaringkan diri ke kasurku yg empuknya tidak seberapa. Aku kecewa, sebegitunya.

Kau tahu? Kau berbeda untukku malam itu. Aku paham mungkin kau sangat lelah. Tapi apa kau pernah paham aku sangat tidak suka dengan nada bicaramu untukku? Seolah aku tidak punya bagian apa2 di hatimu.

Sampai di depan gerbang kos ku, aku hanya ingin masuk dan menutup pintu daripada harus melihatmu menyaksikan air mataku. Kau memaki, menggerutu. Hingga satu kata "putus" keluar dari mulutmu. Meski berbatas pagar besi, tapi aku masih mendengar suara bernada emosimu. Aku terpaku, seolah besi menancap di dadaku. Ah, lebih baik aku segera berlalu agar tidak perlu lagi mendengar kata2 yang lebih menyakitkan darimu.

Kau tahu? Aku tidak menyesalkan kau berlaku dan berkata begitu. Bagiku, tak ada yg lebih menyakitkan daripada kehilangan seseorang yg aku sayangi untuk selama2nya. Dan aku sudah pernah mengalami hal itu, ketika Almarhum Aira dipanggil Allah ke surga untuk menemani-Nya. Kau tahu, setelah itu, aku berusaha bangkit sampai detik ini, "move on", hingga aku merasa tidak ada hal lagi yang mampu buat aku bersedih setelah hal itu terjadi. Semua masalah di dunia ini menurutku bisa diselesaikan dan tak ada yg bisa membuatku sedih berlebihan.

Tapi kau tahu? Malam kemarin aku begitu sedih dan kecewa. Entah mengapa.

Hampir 5th kita bersama, kau mampu menemaniku hingga lulus kuliah dengan semangat darimu. Kemarin, aku telah melakukan hal yang sama untukmu. Sudahkah kau bahagia? Aku harap ya, walau sedikit :)

Mungkin kata2 putus darimu menjawab semuanya. Menjawab bahwa kita diperuntukkan bersama hingga saat masing2 dari kita selesai memberikan semangat untuk beranjak ke masa depan.

Perjuanganku selesai, dear you.

Rawamangun, 01 Juli 2015.
Di atas tempat tidur dengan bantal separuh basah karena air mata yang tak henti mengalir, refleksi hati yang terkilir.


 


Share:

Jan 1, 2015

Hallo, 2015!


First day of 2015.. bingung mau mulai nulis darimana. Saking banyaknya atau sedikitnya, entahlah.. hehehe. Yang pasti pengen flashback aja dari tanggal 1 januari 2014 sampe sekarang, hal-hal besar apa aja yang udah gue lewatin dan membantu perkembangan jiwa dan raga gue. Halah. Tahun ini gue gak ngerayain tahun baruan, dikarenakan masih kerja sampe jam 3, which is sampe kosan tetep jam 6 karena ujan seharian dan macet. Ditambah lagi gigi gue ngulah, sakit, bengkak, whatever, yang pasti emang ga niat buat kemana-mana. Sempet ada yang BBM ngajakin ke sunda kelapa jam 6-an. Gue pikir ke pelabuhan sunda kelapa, ngerayain tahun baru di tepi laut, mungkin unyu juga ya. Ternyata oh ternyata.. doi ngajakin ke mesjid sunda kelapa di menteng men. Ngapain? I’tikaf. Subhanallah temen gue... salut gue hehehe maap gue ga bisa ikut. Sakit gigi bawaannya pengen ngejogrok aja di atas kasur.

Paginya pipi gue bengkak, udah gak simetris lagi ini bentuk wajah. Hadooh gue panik, langsung ngobatin pake air garem, odol, segala rupa. Tidur mulu sampe sore, akhirnya bangun karena ada tetangga yang karokean kenceng banget kaya lagi di kondangan. Masya Allah. Akhirnya gue mutusin buat ngelawan ni penyakit, gue mandi di tengah ujan yang gerimis, dingin sih. Tapi seger. Abis itu gue nyanyi2,pasang headset, nulis. Ya kaya sekarang ini. Rasanya mendingan, walopun gigi tetep bengkak dan nyut2an.

Tahun lalu gue ngerayain tahun baruan bareng sahabat sama adek gue, ikutan open trip temen camping di Pulau Pari, Pantai Perawan. Such a great trip, meskipun abis pesta petasan ujan dan angin kenceng banget sampe tenda2 yang kita bangun hampir ambruk semuanya. Jujur aja rasanya parno, inget kita ada di pinggir laut, angin kenceng banget, and that was my very first time. Udah banyangin macem2, tapi liat sekeliling pada santai aja, tidur dalem tenda, akhirnya gue ikutan tidur sampe pagi saking ngantuknya. Alhamdulillah ga kenapa2, paginya malah rame banget. Ada yang baru dateng, ada yang ngadain gathering kantor sambil main games, seru sih.

Abis tahun baru, kembali masuk kerja.. seperti biasa. Kadang weekend main sama temen, nongkrong, pacaran, ngetrip, liburan. Oiya gue pernah liburan berdua bareng pacar ke jogja sekitar pertengahan tahun kalo gak salah, sebelum bulan puasa. That was our very first trip yang jauh hehe norak yah. Seru banget, tapi gak sempet wisata pantai karena gue juga udah cuti kerja itu. Masih banyak sih sisa cutinya, secara gue gak pernah ngambil cuti. Tapi gue udah niat mau ngabisin cuti pas libur puasa sama lebaran di rumah, Medan.

Belom ada kejadian yang membekas banget sih, kecuali sebelum puasa sampe lebaran. Sebelum puasa gue ditimpa masalah keluarga, biasa. Gak berat sih, Cuma cukup ngebuat kefikiran di kantor sampe waktunya pulang ke rumah. Gue sengaja cuti 1 minggu sebelum lebaran, maksudnya biar punya waktu buat puasa di rumah. Cukuplah puasa jadi anak kosan yang lumayan menyiksa selama 3 minggu hehehe.. dan kerjaan gue untungnya masih bisa dikerjain secara remote. Sampe di rumah gue seneng banget, gatau kenapa, mungkin abis gajian dan dapet THR pula, jadi alhamdulillah bisa beliin sesuatu buat orang di rumah. Gue sama kakak emang udah bilang mau janjian pake baju serba putih tahun ini (entah nanti akan berhubungan dengan cerita selanjutnya, baca aja terus), dan ngebeliin bapak sama mamak baju putih buat lebaran. Gue udah punya, adek sama kakak yang lain juga niat mau beli baju warna putih juga. Dan karena gue udah dapet THR plus gajian, jadi bakalan nyiapin THR juga buat keluarga, saudara-saudara. Alhamdulillah ini tahun pertama gue dapet THR plus gaji yang lengkap.. tahun lalu kayanya abis resign dari perusahaan dan gak dapet THR.

Sampe di rumah, seperti biasa yang pertama kali gue cari adalah keponakan kandung gue satu-satunya, anak dari kakak gue yang stay di Medan. Aira Salsabila Lubis. Katanya dia udah mulai masuk PAUD, dari telp-telp jarak jauh yang sering gue lakuin ke dia. Hari pertama gue nyampe dia belom dateng, kecapekan mungkin. Besok siang sepulang sekolah akhirnya dia muncul juga di hadapan gue, senyum2 malu kaya biasa, mungkin karena ketemu juga setahun sekali. Dia pake baju PAUD yang berkerudung warna putih, gede banget kaya udah SD padahal baru 4 tahun. Gue main, ajak dia taraweh, tidur bareng, seru banget. Dia paling deket sama gue, semua keluarga juga udah tau. Jadi kalo gue udah balik ke medan, ya dia bakalan deket2 gue terus. Tiap hari gue ajak taraweh, makan baso, belanja-belinji. Alhamdulillah gue udah bisa nyenengin dia dan keluarga pas bulan ramadhan kemaren. Entah kenapa, rasanya semua gaji dan THR gue ludes tapi seneng bisa ngebahagiain orang-orang terdekat. Apalagi Aira, apapun yang dia minta dan belom punya, pasti gue beliin. Apalagi terkait kebutuhan dia sekolah ya. Meja belajar, tempat pensil, buku mewarnai, hehe lucu ya gue masih inget banget detailnya...

Sampe akhirnya adek dan kakak gue yang di bandung dan depok pun ikut pulang, rumah lengkap. Komplit, full team. Senengnya alhamdulillah,  bersyukur masih bisa kumpul lengkap sekeluarga. Rasanya lebaran dan ramadhan kemaren adalah lebaran terindah sepanjang hidup gue. Rasanya indah banget, sampe-sampe pas mau balik ke jakarta lagi aja gue nangis kejer di pesawat. Ini sih biasa, tiap tahun juga gitu. Tapi kali ini beda, mungkin karena gue bersyukur atas semuanya, entahlah. Padahal gue gak kemana-mana, di rumah, rumah sodara, main sama temen, ke mall sama keluarga. Udah. Tapi emang yang namanya bahagia itu dari hati ya.. kemanapun dan sama siapapun kalo bersyukur dan ngerasa bahagia mah bisa aja.

Sampe akhirnya setelah gue kembali ke jakarta, gue belom sempat hubungin keluarga di rumah selama seminggu. Kerjaan menanti bok.. report bulanan di depan mata ditungguin klien. Akhirnya adek gue hubungin, katanya Aira sakit udah seminggu. Gue bingung, sakit apa dia sampe seminggu keluarga gue juga ga sempet ngabari? Adek gue bilang dia sekarang udah ga bisa gerak badan sebelah kirinya, jalan haru dipapah. Innalillah... gue panik. Kerja jadi gak konsen, sampe tiap jam nelp terus ke rumah. Ternyata karena sempat jatuh dari ayunan pas di sekolah, giginya sampe berdarah. Kejadian itu sebenernya pas gue masih di medan, dia dateng ke rumah gue pulang sekolah dan ngadu tadi abis jatoh dan giginya goyang. Pas gue tanya sakit ga, dia bilang engga, Aira udah gak papa kok, udah bisa makan tuh.. sambil mamerin giginya. Malahan dia langsung main lego sama temennya yang dibawa ke rumah. Gue gak terlalu khawatir, karena emang anaknya gak pernah ngeluh sakit.

Ternyata pas dibawa pijet ke Atok (tukang pijet langganan di gang gue, bisa melihat alam yang kita gak bisa lihat), Atok bilang Aira disuruh bawa ke dokter untuk scan kepalanya, katanya ada sesuatu yang mungkin ngeganggu. Besoknya keluarga langsung bawa dia scanning, kasian banget liat dia diinfus untuk masukin obat bius biar gak bergerak pas scanning. Gue yang dikirimin foto sama adek aja nangis, apalagi liat bokap nyokapnya dia yang gak tahan liat anaknya ditusuk2 jarum.
Singkat cerita (gue gak mau ngenang ini semua panjang2, terlalu sakit), divonislah dia Tumor Batang Otak (Brainstem Glioma). Boleh dicari di internet, gue juga baru tau ada itu penyakit. Intinya penyakit fatal, dan gue ga tau berapa lama lagi jangka hidup Aira. Yang gue tau Cuma gue harus pulang karena dia pasti butuh gue. Gue pulang 2 minggu dapat izin dari kantor, dan begitu ketemu dia yang udah dirawat di RS gue gak kuat. Tubuh sebelah kirinya udah ga gerak, wajahudah agak miring ke kiri dan air liur terkadang jatuh. Maaf, persis anak penderita autisme. How could this happened to me? Itu yang gue tanyain sama Tuhan pada waktu itu. Kenapa ngasih cobaan gak tanggung2? Gue sedih, terpukul banget, drop. Gak pernah gue menghadapi peristiwa ngerawat orang yang terkena penyakit fatal banget, bahkan gue sempet ngira ini semua mimpi. Ini cerita Cuma ada dalam sinetron di TV, tapi ternyata bisa terjadi sama gue juga. How could? Why me? That was my silly question at that time. 

Intinya Aira tetap dipanggil Tuhan, setelah kurang lebih 1 bulan perawatan sejak divonis. Allah lebih sayang dengan dia, anak cantik yang sekarang udah jadi bidadari surga. Allah lebih butuh Aira, meski kami semua disini betul-betul kehilangan. Gue sempet bolak-balik 3x Jakarta-Medan, demi memberi dukungan fisik dan moral buat keluarga, terutama kakak gue. Kakak ipar gue tipe wanita yang lemah dan susah melahirkan, makanya cukup punya anak 1 aja katanya. Dan ketika udah diambil lagi oleh Sang Pencipta, gue tau yang paling merasa kehilangan itu mereka. Tragisnya, ketika gue pulang setelah dapat izin 2 minggu tadi, pas banget pesawat gue take off ke Jakarta, disitulah Aira sekarat dan dinyatakan koma. Kenapa bisa? Malemnya, sebelum gue pulang ke Jakarta, gue ke rumahnya buat pamitan sekalian jenguk dia. Dia udah beberapa kali radioteraphy dan konsumsi obat, jadi dirawat jalan aja. Sampe di rumahnya, ternyata dia demam tinggi dan makanan udah ga bisa masuk. Air putih sedikit, intinya posisi tubuhnya terlentang, mata bengkak, mulut menganga, badannya panas. Gue panik, langsung telp dokter dan disuruh kompres jangan sampai step. Bokap langsung nebus vitamin yang dokter suruh, harganya 400ribu buat dia biar bisa makan. Saat itu duit udah bukan apa-apa, ga ada artinya karena yang penting dia sembuh. Nyokap berdoa terus dan megangin tangannya, kita kompres, gue tanya2in dia gak bisa jawab lagi. Tapi pas gue pegang tangannya, dia respon dengan genggam balik. Dan gue ga sadar kalo itu adalah genggaman tangan terkahir dari Aira.. L

Gue pulang setelah dia reda panasnya dan matanya bisa tertutup, vitamin juga udah dikasih. Mungkin dia tidur, efek obat. Gue sebenernya juga ga mau balik ke jakarta, tapi namanya kerjaan mana bisa ditolerir lagi? Gue udah dapet izin 2 minggu, dan emang harus balik besoknya karena tiket juga udah dipesan. Tapi ya tadi, pas gue take off (ke bandara dianter bokap), ternyata Aira sejak malem gak bangun2 dan keluarga mulai panik, langsung ke RS dan masuk ICU. Begitu gue menginjakkan kaki, masih di terminal dalam bandara Soekarno Hatta, nyokap nelp dan bilang Aira koma dan lagi dirawat di ICU. Innalillahi ya Allah.. kenapa sekarang? Kenapa saat gue udah sampe jakarta lagi? Gue disuruh berdoa sama bokap dan nyokap, karena tadi detak jantung Aira sempat hilang dan sudah divonis meninggal, tapi nyokap gak ikhlas dan akhirnya jantungnya dipompa, alhamdulilah masih berdetak.. masuk ke ruang ICU anak untuk perawatan intensif. Gue menunggu kabar kaya orang mati rasanya, ga tau ,au ngapain. Ternyata dokter semua udah ngomong sama keluarga gue kalo batang otaknya udah rusak, matanya udah buta, respon yang kita bisa lihat Cuma dari detak jantung dan tekanan darahnya. 

Masya Allah.. begitu besar cobaan Tuhan. Gue masih nunggu kabar, semua saudara udah dateng dan nungguin di RS. Esoknya gue berangkat kerja, ternyata nyokap nelp tapi sinyal HP gue susah. Begitu gue sampe kantor, nyokap nelp dan sesenggukan, bilang banyak2 berdoa dan ikhlaskan Aira pergi, karena dokter bilang tinggal tunggu waktu aja sampai detak jantung dan tekanan darahnya benar-benar hilang.. Allahu Akbar, Allah yang punya kuasa atas segalanya, termasuk nyawa.. gue Cuma bisa nangis dan langsung pesan tiket pulang. Iya, baru sehari di jakarta gue udah pulang lagi, alhamdulillah dapat izin seminggu, meski akhirnya gue memutuskan untuk resign karena pengen fokus dulu di rumah. Dan ngelihat perusahaan kayanya kurang berempati dengan musibah yang gue alami, in my opinion. So i choose to leave.

Pernah gak lo ditungguin sama orang yang mau meninggal? I mean, orang itu udah sekarat, koma, dan Cuma nungguin lo dateng, ikhlas, baru dia meninggal? Klise, naif? Gak. Gue ngalamin itu. Aira udah dinyatakan tinggal nunggu waktu untuk meninggal, tapi dokter dan suster heran kenapa dia masih tahan 1x24 jam lebih nunggu waktu, dan ternyata suster bilang dia seperti nungguin orang yang sayang banget sama dia.. seperti ada yang ditunggu, katanya. Gue memohon sekuat tenaga dengan Tuhan, kalaupun Engkau mau ambil Aira kembali, tolong tunggu hamba ada di sampingnya, tolong hamba untuk menuntunnya mengucapkan laailaahaillallah untuk terakhir kalinya.. dan mungkin Tuhan mendengar. Atau mungkin memang Aira pengen pamitan sama gue.. L

I took the very first flight that day, 9 September 2014. Berdua kakak yang di depok, langsung ke RS dari bandara, jam 11 lewat sampe RS.Bokap udah nelp terus, katanya tekanan darahnya naik turun, gue disuruh buru-buru. Sebenernya tadi malem sempet dibangunin ibunya, ujung-ujung jari kaki dan tangan Aira mulai biru, katanya alat bantu pernafasan udah menolak masuk ke tubuhnya. Tapi mamak, nyokap gue, neneknya, membisikkan sesuatu ke telinganya kalo gue udah di jalan mau pulang, Aira tunggu dulu ya, Bunda mau datang.. kata nyokap gue ke cucu satu-satunya itu. Akhirnya, entah keajaiban darimana, berangsur-angsur hilang biru di ujung-ujung jarinya dan tekanan darahnya normal. Hanya detak jantung yang semakin lemah.

Gue sampe di RS, masuk, dan semuanya persis kaya di sinetron. Alat-alat rumah sakit yang baru pertama gue liat, Aira yang udah ditempelin banyak alat-alat medis di seluruh tubunnya, innalillahi.. gak akan pernah gue lupa letak dan bentuk kamar rumah sakitnya. Gue ajak ngobrol, gue pegang tangannya, gue bangunin, karena gue masih yakin dia bakalan bangun.. walaupun ternyata enggak pernah. Tangan dan kakinya pucat, telinganya juga, seluruh badannya udah mulai dingin. Gue masih belom yakin dia udah diambang batas kematian, karena gue selalu percaya adanya keajaiban. Kata nyokap yang nungguin diluar, pas gue dateng dan masuk, tekanan darah dan jantungnya naik pesat, walaupun turun 1-2 menit kemudian. Suster bilang dia ngerespon, tapi Cuma melalui detak jantung karena tubuhnya udah gak bisa digerakin. Setengah jam di dalam, gue disuruh makan sama tante karena takut kenapa-kenapa. Abis makan sahabat dateng, jenguk sebentar, terus gue anter pulang. Gue nungguin di luar kamar karena itu ruang ICU anak dan yang bolah masuk Cuma 1 orang. Sekitar jam setengah 3, gue ketiduran, dan kebangun karena suara bokap yang nyuruh kita semua masuk ruangan. 

Ternyata di dalam udah ada bokap dan sodara yang juga dokter, lagi megang-megangi badan Aira. Gue langsung masuk, ternyata bibir dan jari-jarinya udah mulai biru, dan kata suster udah gak bisa ditunggu lagi, takut pembuluh darahnya pecah. Gue yang awam, masih gak percaya, sampe akhirnya suster manggil dokter ahli. Dokter buka mata Aira, disenter, dan dia langsung bilang, oh iya udah gak ada ini.. Innalillahiwainnailaihi raajiun. Segampang itu dia ngomong. Akhirnya dokter minta persetujuan keluarga, untuk melepas alat2 bantu pernafasan dan jantungnya. In which kalo dilepas, 10 detik ke depan dia sudah dipastikan habis detak jantungnya. Kakak gue setuju, dia sudah ikhlas, begitu juga keluarga yang lebih memilih ikhlas daripada teriak teriak di RS kaya di sinetron. Perlahan-lahan dilepas alatnya, sampai terakhir alat pacu jantung dilepas, Aira sempat gerakin tangan sebelah kiri, meraba-raba, dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya disertai hembusan “hhhh..”. innalillahi wainnailaihi raajiun.. Aira benar-benar pergi selamanya. It was hurting me so bad until now.

Jasadnya langsung dibawa ke rumah dan dikebumikan besok. Di rumah semua tetangga dan sodara udah nunggu dan teriak-teriak histeris. Aira anak paling disayang di lingkungannya, karena bijak banget dan lucu. Wajar, anak kecil meninggal pasti banyak yang sangat kehilangan. Gue belom nangis, karena bingung rumah rame banget. Tangis gue pecah pas mandiin almarhum, dan sampe dia dikafanin, sebelum ditutup seluruh wajahnya. Gue pamitan,minta maaf, dan pecahlah tangis gue sampe hampir pingsan. Setelah itu udah, gue gak mau almarhum merasa kesakitan kalo harus terus gue tangisin.

Seminggu kemudian gue mutusin balik secepatnya ke jakarta, terlalu banyak kenangan gue di medan bareng almarhum. Gue masih belom percaya dia udah ga ada, bahkan sampe sekarang. Sampe di jakarta gue juga belom kerja, masih punya waktu 2 minggu sampe akhirnya bener-bener resign dari kerjaan yang lama. Setelah itu gue cari-cari kerjaan lagi, sempet frustasi karena gak nemu yang cocok, nolak yang satu malah akhirnya nyesel, sampe stress banget gue. Baru kena musibah, masih harus mikirin masa depan yang gamang, blur, gue nguatin diri sendiri kalo musibah itu bukan buat ditangisi tapi buat dijadiin pelajaran dan bangun diri sendiri untuk jadi pribadi yang lebih dewasa dan kuat lagi. 

Sampe akhirnya gue pun bingung milih kerja yang mana, saking banyaknya ngelempar lamaran lagi dan malah bingung pas (alahamdulillah) banyak yang keterima. Maaf buat perusahaan yang ditolak, bukan bermaksud sombong atau bermain-main tapi memang saya nyari yang terbaik.. hehehe peace.
Segitu aja cerita gue di tahun 2014. Mulus di awal, kaya roller coaster di tengah, dan landai di akhir. Btw gue masih pengen lanjutin nulis buku tentang kisah almarhum dan penyakitnya, mungkin bisa jadi pelajaran untuk keluarga-keluarga kecil disana yang punya anak, kalian-kalian yang punya keponakan, adik, saudara, siapapun. Resolusi pertamanya sih itu, nulis buku dan nerbitinnya. Entah mau siapa yang beli, yang pasti keuntungannya bakalan gue sumbangin buat anak-anak penderita kanker. Insya Allah.

Sekarang sih masih berasa sakitnya kehilangan, apalagi tiap denger suara nyokap bokap. Biasanya tiap minggu mereka ditemenin cucu, sekarang berdua lagi. Tapi gue selalu berusaha untuk tegar di hadapan mereka, walau sebenernya sampe sekarang gue suka nangis diam-diam setiap ingat almarhum. Tapi gue pernah baca sebuah quotes, intinya begini “poor people focus on what’s missing, rich people appreciate of what’s having”. That’s what i should do now. Dengan gue fokus menangisi yang hilang, gue takut gue gak menghargai apa yang sekarang ada dan mungkin (pasti) bakalan hilang juga. Alhamdulillah keluarga masih lengkap, teman-teman baik, pacar, rekan kerja yang baik, alhamdulillah.
Ya gitu deh 2014 gue kalo dikilas balik.

Selamat datang, 2015. Terima kasih 2014, atas pengalaman yang berharga, atas tangisan tak berwarna, sukacita yang tak terhingga, tinta yang tak pernah ada habisnya untuk ditorehkan kembali di 2015 dan seterusnya. Semoga kebahagiaan selalu bisa hadir untuk kita semua.. aamiin ya Allah.

Share:

Jul 7, 2014

Couple-Travel [1st - Yogyakarta]




P.S. Ini adalah catatan kecil perjalanan kami berdua, dimana catatan ini dimulai oleh Jabbar saat dalam perjalanan pulang di kereta Progo. Ketika membaca catatan ini di hp-nya, saya suka dan jadi ingin melanjutkan ceritanya. Tanpa editan, agar tak mengurangi makna. Jadilah ini, cerita kami berdua. Maka, jangan kaget ketika kami saling menyebut nama di dalamnya! :)


Rencana ini akhirnya terlaksana juga. Pergi jauh keluar kota sudah ada di pikiran kita sejak lama. Beruntung akhirnya tercapai juga. Tak lain, Utet lagi-lagi jadi panitia pelaksana utama. Aduh, kalo bukan karena dia, liburan ini mungkin seperti biasa, cuma jadi wacana. Rencana dia susun sebaik mungkin. Dimulai dari tanggal jalan, destinasi liburan, penginapan, transportasi, konsumsi sampe agenda liburan, Utet semua yg atur. Satu-satunya yang gue sumbang cuma Borobudur. Iye, gue usul sama dia waktu bingung soal destinasi utama. Dan alhamdulillah, Utet langsung setuju. Alasan kita sama, Borobudur adalah salah satu keajaiban dunia. Dan ini ada di Indonesia, negara tercinta kita.


Akhirnya satu persoalan selesai. Utet masih mikir soal waktu yg pas. Jelas ini soal utama, dia udah punya tanggung jawab di tempat kerja. Jadi gak bisa seenaknya aja nentuin hari. Kebetulan di Mei tahun ini emang banyak banget waktu libur. Kita jadiin deh Mei di prioritas pertama. Utet sempet nawarin tengah April. Karena ada libur Hari Paskah. Dan di waktu dekat itu ada hari lahir gue. April gak jadi dipilih. Alesannya banyak deh. Mulai dari ketersediaan tiket kereta, planning yg blom mateng, duit blom kumpul, dan yg paling penting, kasih seneng mama yg mungkin mau bikin nasi kuning di tgl 20 April. Oh ya, di April ini bunda juga ultah. Jadi tanggal jalan fix diundur ke awal Mei.

Tahun ini, baru pertama kali hari buruh dijadiin libur nasional. Biasanya mah, buruh yg mau demo tgl ini mesti cabut/izin dari kantor. Sekarang udah dikasih libur sama pemerintah. Moga keputusan ini berawal dari iktikad yg baik dari pemerintah. Sebenernya kita mau jalan dari tgl 30 April. Cuma masalahnya, kita bakal nambah jumlah hari. Artinya, pengeluaran juga mesti bertambah. Makanya kita kurangin satu hari, berangkat Kamis, 1 Mei 2014.

Singkat cerita, jam 08.00 pagi, Utet udah nelp. Dia mau mastiin kalo gue udah bangun pagi. Sekali dering, gue angkat telp. Saat-saat gini emang mesti sigap nih. Jangan sampe berantakan rencananya. Bisa diamuk sama si Utet. Ternyata hari itu Utet udah bangun dari jam 06.00. Report untuk meeting bulan ini harus selese, biar balik dari Jogja udah woles. Di malam sebelumnya kita udah begadang di Dunkin Donuts Rawamangun. Utet kerjain report, gue kerjain tulisan Nursaelan buat di web. Sebangun dari tidur, gue juga jadi ngelanjutin tulisan lagi karna nanggung, tinggal penutup doang. Tapi namanya nulis, waktu kaya jalan cepet banget. Tau-tau hape gue bunyi lagi. Utet niatnya mau ngecek, gw tidur lagi apa gak. Walaaah, ternyata dia masih meragukan kesungguhan liburan ini. Hehe

Dari kosan sana Utet langsung nyuruh gue mandi. Takutnya bakal telat. Kebatulan tulisan udah jadi, tinggal kirim doang. Yauds, mandi sudah. Di liburan ini gak ada orang lain. Kita sepakat untuk jalin cerita berdua. Cerita baru bagi cerita lama soal Jogja dari masing-masing kita. Karena nyatanya, cerita kita berdua bakal lebih keren dan memorable dibanding Jogja-Jogja sebelumnya.

Itu yg gue pikirin di wc, waktu nunggu perut mules. Tapi udah lama, masih aja gak dateng nih mules. Moga aja di kreta ini perut gak rusuh. Bener aja, sampe perjalanan pulang, waktu gue nulis cerita ini di kreta dengan seorang gadis cantik yg tidur bersandar di pundak gue, agenda nyetor ke wc moga masih bisa dipending sampe di Jakarta nanti. Sayang momennya, Cuy. Hehe

Oya, balik lagi ke wc gedung G. Akhirnya gw langsung mandi. Baru keinget masih banyak hal yg belom dilakuin: sarapan, beli cemilan, perjalanan. Hari itu kereta dijadwalin berangkat jam satu siang. Sementara sebelom gw ke wc tadi udah jam 10:00 lewat. Selesai mandi, Utet nelp lagi karna udah laper. Biar cepet ketemu dan sarapan. Jangan sampe maag-nya kambuh. Kita sarapan di belakang borobudur. Niatnya di warung Bu Fajar. Tapi ternyata penuh. Geser dikit deh ke belakang. Warung langganan juga, masakannya gak kalah enak. Kenyang sarapan kita langsung nyari metromini 03 yang rutenya ke Senen. Gak sampe lima menit, kita udah dapet. Untungnya rute 03 gak lewat jalur utama demo. Jadi sekitar setengah jam kita udah sampe Setasiun Senen.

Ini salah satu stasiun tertua di Jakarta. Keliatan dari model bangunan yang khas banget nuansa Belandanya. Tiket berangkat belom dituker. Kita sempet panik karna bukti pemesanan belom di-print. Untungnya petugas loket ngebolehin kalo cuma diunjukin via hape. Ngantrinya lumayan lama, loket di Stasiun Senen lagi bener-bener penuh. Yaamplop, panas parah, mesin AC yg ada gak ngefek. Kipas berdiri juga cuma efektif buat yg deket. Kalo udah jarak >7 meter bisa-bisa dapet anget napas orang. Butuh pembenahan lebih lagi nih. Yuk, PT KAI, pasti bisa kok. Buktinya pelayanan di dalem kereta ekonomi juga udah jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Termasuk subsidi yg dikasih ke harga tiket-tiket kereta.

Udah dapet tiket kita langsung buru-buru beli cemilan sama ambil uang di atm buat tambahan modal hidup selama liburan. Abis itu kita masuk ke dalem, nunggu di peron. Setengah jam lagi kereta bakal dateng. Kereta bengawan dateng dari arah barat. Kita kedapetan duduk di gerbong 5 di kursi pojok deket pintu gerbong. Sampe situ ternyata ada pasutri paruh baya yang udah lebih dulu duduk. Yauds, gak masalah, kita tukeran tempat duduk.

Dimulai deh obrolan awal.
"Mau kemana, Dek?" tanya mereka ke Utet.
"Mau maen ke Jogja, Pak, Bu."


Gak cukup lama obrolannya. Tapi beberapa info soal domisili, rencana pulang, keluarga, dan lain-lain mengalun laiaknya chit-chat biasa. Maaf, Pak, Bu, kami gagal untuk berbuat lebih. Semoga Bapak-Ibu tetep sehat sampe perjalanan pulang.

Kereta udah jalan meninggalkan Jakarta. Untuk sampe Cirebon, Kereta Bengawan yang kita naekin cuma butuh waktu 3 jam. Cepet banget, kan? Di Cirebon kereta cuma berenti bentar. Justru lebih lama di Purwokerto, Kutoarjo. Dan setelah itu kereta lebih sering berhenti. Karena katanya masih jalur tunggal. Jadi harus gantian sama kreta dari arah lain. Alhasil di Lempuyangan, Jogja kereta sedikit terlambat. Tapi kita udah keburu lemes di jalan. Soalnya cuma diisi sama nasi + telor sambal. Dari stasiun kita naik becak ke rumah sepupu gue di daerah Malioboro buat numpang nginep hahaha HEMAAT. 




Pagi hari, 2 Mei 2014, 


Kita berdua udah mandi dan siap jalan ke Borobudur. Perut udah laper. Kita celingak-celinguk cari makan di Malioboro. Pilihan jatuh ke penjual gudeg dan pecel sayur. Kita berdua pesen nasi gudek, minumnya teh manis anget. Seperti biasa, kita berdua ngerasa tukang jualan mulai rame setelah kita mesen makanannya. Kurang lebih 15 menit makan, kita selesai. Nasi, lauk, sayur sama minuman udah beres dilahap. Sekarang waktunya itung-itungan sama Ibu penjual. Wah, bener, memorable banget makan di situ. Top dah. Tanya Utet aja kalo gak percaya (selanjutnya akan gue ceritain nanti - Butet :p).

Gak jauh dari tempat sarapan, udah ada shelter bus TJ. Kita menuju Borobudur!



Untuk sampe ke sana kita mesti ke terminal Jombor dulu. Abis itu naek bus langsung ke arah Borobudur. Kata petugas TJ, kita harus naik TJ jalur 2B trus 3A. (apa sebaliknya ya. Lupa soalnya. Hehehe). Harga tiketnya 3ribu per orang. Sampe deh akhirnya di Terminal Jombor. Dari situ kita tinggal sekali lagi naek bus. Model metromini, cuma lebih terawat, bersih, luang, empuk, dan gak bau. Satu orang dipatok harga 15ribu. Nah, pas banget di depan kita ada bule. Kalo denger-denger dari logatnya sih kayanya orang Jepang. Mereka berdua dikasih harga 20rb. Masih rasional lah sama kantong bule.

"Is it the right bus to go to Borobudur?" tanya turis cewe ke Utet. Kita berdua serempak jawab cepet, "Yaa.."

Kata Utet, pengalaman orang-orang di blog bilang kalo durasi perjalanan ke terminal Borobudur itu sekitar 1,5 jam. Lumayan deh, ada waktu buat becanda-becanda dulu. Di sini juga Utet mulai nyiapin pegangannya, kamera smartphone tercintanya, I-phone 4S. Yeah! Yang lucu adalah melihat bagaimana cara orang Jepang berlibur. Sepanjang perjalanan ke Borobudur, sang istri terus megangin kamera poketnya. Kameranya mulai nangkep hamparan sawah yang baru mau ditanam padi, ada juga hamparan coklat emas padi yang masak. Rumah-rumah penduduk di pinggir jalan, pemandangan sepanjang jalan. Satu pengamen naik masuk kena jepret. Begitu juga penjual tahu sumedang dan arem-arem.

Selesai poto, sang istri mengeluarkan kertas dan pulpen. Gue kepo dan sekilas keliatan angka-angka di kertas itu. Mungkin sedang itung-itungan kaya kita tadi pagi. Hehe. Bus berenti di terminal Borobudur. Masih ada jarak kurang-lebih 2km. Ada banyak tawaran transportasi lagi. Mulai dari becak motor, sampe andong atau kereta kuda. Kita milih untuk naek andong karena harganya 15ribu untuk berdua.

Dan di luar perkiraan, pak kusir langsung tancap gas. Gak nunggu yang lainnya. Mungkin memang biasanya kaya gini. Soalnya di tengah jalan bapaknya nawarin untuk keliling candi laen. Dengan 60ribu, kita akan diajak keliling Candi Mendut, Candi Pabon, dan Candi Borobudur. Kalopun kita gak mau, pak kusir gak maksa sama sekali.

(Hai, ini Butet! :) mau lanjutin cerita yah.. Soalnya si Jabbar lupa katanya. Huuu *jitakmanja*

Sampai di depan candi (yang ternyata deket, tapi karena panas bgt gue pikir nayamul jg kalo jalan), kita disambut bermacam penjual topi, payung, dan segala pernak-pernik khas borobudur. Entah kenapa, mereka gigih sekali menawarkan barang dagangannya, namun tidak "annoying" seperti penjual baju di ITC2 Jakarta. Nada persuatif yang mereka gunakan sangat lembut, namun membuat kita jadi tidak tega (apa memang gue yang ga tegaan hehe).


Sedikit trouble, kita ga punya duit kecil buat bayar delman. Alhasil Jabbar nuker dulu ke warung kecil di depan komplek borobudur. Gue stay di depan komplek, dan makin menjadi lah penawaran barang terhadap gue. Merasa belum membutuhkan selain payung untuk menahan panas, akhirnya terpaksa gue menolak membeli yg lain. Masalah pembayaran delman selesai, eh si Jabbar malah bilang penen beli topi safari yg ada gambar borobudurnya. Buat kenang2an, katanya. Tau gitu tadi penjual ga usah di "maaf-maaf" in ya? Zzz akhirnya kita berdoa semoga pedagang2 semacam mereka masih ada di dalam sana.


Ternyata komplek borobudur ini sangat besaaaar pemirsa. Sebelum masuk gerbang, kita dihadapkan pada tanah luas yg berfungsi sebagai lahan parkir, penjaja souvenir khas borobudur, dan jajanan. Akhirnya kita menemukan ibu2 penjaja topi lainnya di depan gerbang menuju loket, dan langsung melakukan tawar menawar. Jabbar coba berbagai macam warna yg cocok, padahal pilihan gue item apa biru, etapi dia kekeh sama warna krem safari. Yauds kita langsung bayar dan capcus ke loket.


Ternyata loketnya bagus dan rapih. Mungkin karena memang ini termasuk 7 wonders ya, jadi sangat dilestarikan. Loket pembelian tiket untuk wisatawan lokal dan luar negeri juga dipisahkan. Gue baca dari internet, harga untuk turis asing lebih mahal, mungkin sebagai sumber devisa kecil2an demi menjaga kelestarian borobudur. Selesai membeli tiket (20k for each), kita langsung masuk. Gue udah ga sabar banget! Salah deng, kita. Karena ini kali pertama kita ke salah satu keajaiban dunia ini :)


Oiya, pas beli tiket kita dikasih kartu sebagai tanda karcis masuk. Gue sempet ngirain ini kartu bakal dibalikin lagi buat kita, soalnya bagus buat jadi kenang2an hehe. Begitu masuk, kita udah liat banyak rombongan yang foto2. Oiya, satu hal yang gue pertanyakan dari awal sejak menuju kesini : kok gue ga ngeliat kepala budha ataupun candi2 gitu ya dari jauh? Kalo borobudur gede banget, bukankah harusnya kita udah bisa liat dari jauh? Pertanyaan yang sama gue tanya ke 
Jabbar, dan dia jawab mungkin bentar lagi, masih jauh.


Nah begitu lewat dari pemeriksaan karcis, yang gue liat hanya seperti taman besar dengan banyak gedung2 kecil. Kita masih telusuri terus taman itu, ngikutin orang2. Tamannya asri, banyak bangku untuk duduk. Sayang kita tidak sempat foto, karena berfikir pas pulang masih bisa. Namun ternyata pulangnya gak lewat situ ;(

Kita masih terus jalan, dan gue mulai terus rese mempertanyakan dimana keberadaan candi. Ketika hampir terlihat, kita disuruh memakai semacam kain untuk naik ke candi, mungkin demi menjaga kesopanan. Gue excited banget, berasa di bali gitu soalnya hehe. Selesai make kain, mulai deh gue ajak poto2 si 
Jabbar pake tongsis. Panas banget, jadinya hasilnya gak maksimal deh. Yang penting sudah dapat beberapa pemandangan dan latar borobudur. Hari semakin terik, kita terus jalan ke atas untuk mencapai puncak borobudur. Mungkin karena naluri gue sebagai wanita yang lebih mementingkan dokumentasi (re: foto-foto), jadi gue sebenernya sih kurang memperhatikan kawasan ini ya. Belakangan baru nyesel hiks :( semoga suatu hari nanti bisa kembali ke tempat yang sangat indah ini ya.. aamiin. 


Sampai di depan tangga Borobudur, kita disambut beberapa pengawas yang mungkin sedang mengawasi dan selalu berteriak "mas, mbak, jangan diinjak.." kepada orang2 yang foto2 tapi menginjak stupa. hehe lucu ya orang Indonesia, harus diteriakin dulu, padahal tulisan jelas bisa dibaca di banyak tempat di kawasan borobudur ini. 


Banyak juga bule yang berwisata ke kawasan ini, tentunya dipandu oleh guide2 yang sangat paham dengan kawasan Borobudur ya. Sementara itu.. Jabbar sibuk memperhatikan segala macam relief yang ada di dinding candi, membaca maknanya, menerka-nerka cerit yang terpahat.. gue masih setia dengan tongsing buat mengabadikan foto. Mungkin karena gue baru pertama kali dateng kesini, gue fikir gue harus memperbanyak dokumentasi disini haha padahal emang narsis. 

Kita keliling-keliling sampai puncak teratas. Sayang, kepala budha di atas stupa hanya satu yang tersisa. Mana kalo mau foto bareng itu kepala ngantri lagi biar ga harus ngecrop orang yang tau-tau ada di foto kita. Dulu sih katanya dibolehin nginjek stupa buat ngintip kepala budha di dalamnya. Mungkin karena sejak itu malah banyak yang rusak dan hilang, jadinya gak boleh deh diinjek lagi. Gak bisa ngintipin si kepala budha..


Selesai keliling-keliling dan menikmati pemandangan dari puncak paling atas, kita pun memutuskan untuk turun. Niatnya sih istirahat, ngemil. Tapi gue masih belum puas, masih belum dapet foto dari depan yang bisa menjangkau seluruh kawasan borobudur. Akhirnya kita pun nyari angle beberapa kali buat foto-foto, dan hasilnya lumayan lah buat kenang-kenangan. Kawasan borobudur ini cukup asri, jadi kita bisa ngaso dulu abis capek nanjak ke puncak borobudur. Nyambi ngaso dan makan Chitato, kita ngobrol-ngobrol masalah betapa kerennya orang-orang jaman dahulu yang punya ide untuk membangun Candi Borobudur ini. Memang, aura megah dan menakjubkan terlihat dari gagahnya Candi Borobudur ini. Yah, semoga saja tidak ada tangan-tangan jahil yang ingin merusak salah satu keajaiban dunia ini.






Perut sudah keisi, kita pun memutuskan turun untuk solat zuhur dan pulang, karena perjalanan kembali ke kota Jogja masih lumayan jauh dan busnya hanya sampai jam 4 sore. Selesai solat, tadinya sih gue gak mau beli oleh-oleh karena mikir mungkin gak ada yang terlalu khas. Tapi yang namanya naluri permpuan, liat barang lucu, nanya harga dan ternyata murah bingit, kalap lah. Hanya hujan gerimis yang akhirnya bisa menghentikan langkah gue untuk belanja. Oiya, sama tatapan galak si Jabbar hehehe :p


Ternyata keluar dari kompleks borobudur ke depan gerbang lumayan jauh. Kita kehujanan, sempet neduh sambil makan bakso tusuk di daerah pasar kerajinan borobudur. Karena masih punya payung sewaan tadi, kita pakailah untuk balik ke gerbang sekalian balikin payung ke abangnya. Di sepanjang jalan keluar juga ternyata masih banyak orang2 yang rela hujan-hujanan demi menjajakan kerajinan khas borobudur. Maaf, kali ini kita tidak bisa berbuat banyak membantu :")


Sampai di gerbang, untungnya si abang ojek payung hapal muka kita (atau payungnya?) dan kita gak perlu lagi repot-repot nyari si abang. Kita naik delman lagi ke terminal dan nungguin bus ke Jogja. Gue sempet nanyain Jabbar mau makan dulu atau enggak. Tapi Jabbar bilang nanti aja di Jogja, yasudah kita pun langsung berangcut balik ke Jogja. Sampai di terminal Jogja, kita masih harus naik trans jogja untuk kembali ke kawasan hotel di Malioboro. Hujan deras terus mengguyur Jogja sore itu, jadinya kita balik dulu ke hotel buat bersih-bersih dan makan. Tadinya niatnya mau langsung ke alun-alun, tapi karena masih buta arah dan udah benyek kena ujan, akhirnya milih balik ke hotel dulu deh.


Akhirnya trans jogja jurusan malioboro dateng, kebetulan sepi karena memang ini terminal awalnya. Karena sepi, gue coba amati bagian dalam trans jogja, membandingkannya dengan trans jakarta. Trans Jogja memang lebih kecil, namun lebih tidak rongsokan dari TJ in my opinion. Trans Jogja juga kebanyakn dipakai sama wisatawan sepertinya, mungkin memang pemerintah daerahnya ingin melestarikan becak sebagai angkutan umum utama di Jogja. Karena hujan deras, di dalam trans jogja pun ikut kehujanan (re: bocor). Makin lepek lah gue, pengen cepet-cepet sampe hotel aja. 


Sampai di jalan malioboro, kita mau cari makanan. Karena ujan deras, akhirmya kita neduh dulu di shelter sambil liatin tempat makan mana yang gampang ditempuh biar gak terlalu kehujanan. Bukannya apa2, baju udah abis bok! Gue bilang ke kiri, eh Jabbar bilang nyebrang aja ke kanan mungkin banyak kang dagang makanan. Eh firasat gue bener, disitu mah pusatnya barang dagangan, bukan makanan. Gue dengan sedikit ngambek nyuruh balik lagi ke tempat awal, dan akhirnya mutusin buat makan bakso di tempat yang biasa aja. Cenderung kotor karena hujan kali ya, tapi semoga aja enak dan gak mahal. Ngomong2 mahal, jadi ngerih jajan di daerah malioboro nih. Tadi si Jabbar di atas cerita kan kalo kita tadi pagi sarapan nasi uduk komplit di kaki lima borobudur. Kita sih nyantai aja, karena mikir gak mungkin harganya mahal juga. Tapi pas dikasih porisnya lumayan komplit, gue mikir ini nasi gudeg banyak banget, ada segala lauk pula. Emang sih tadi gue yang bilang komplit, tapi gak nyangka aja segini banyaknya. Pas bayar... tugasnya si Jabbar, jeng jeng jeng jeng....! Ngasih duit gocap katanya pas. Hehehehe senyum2 aje si Jabbar padahal mah nyesek hahaha yasudahlah, mungkin emang rezekinya si Ibu dan emang harga wisatawan segitu ;)


Selesai makan bakso yang ternyata enak banget dan harganya cuma 10rb, kita pulang. Bersih-bersih, dan niatnya habis magrib nanti mau langsung ke alun-alun selatan. Karena gak tau gimana jalan kesana, akhirnya kita naik becak lagi dan bayar kurang lebih 25rb. Lumayan jauh, apalagi kalo jalan kaki hehe. Sampe disana rameeeee dan seruuu! Gue emang pengen banget naik odong2 lampu warna-warni itu dari dulu! Kita muter-muter nyari odong2 yang paling bagus sekalian ngeliat suasana malam di alun2. Mungkin karena abis ujan jadi agak becek, dan gak terlalu banyak orang yang ngangkringan. Akhirnya kita dapet tuh odong2 yang menurut kita bagus, harganya 30rb-an kalo gak salah buat dua kali muter. Excited banget! Sistemnya sih sama kayak bebek dayung di tamini yah, bedanya cuma pake setir kaya mobil doang. Gue seperti biasa sibuk foto2, Jabbar yang nyetir hehe tapi gue bilang pelan-pelan aja biar gak berasa. Di belakang kita ternyata masih banyak juga sih yang sengaja lama-lamain, apalagi jalanan kita digabungin sama lalu lintas umum, jadi daripada di klaksonin mulu sama orang ya mau gak mau gak bisa lama2 juga. Tapi seru bangeeett! Berasa naik mobil pribadi hehe lumayanlah buat belajar kalo ntar jadi orang kayah!


Capek muter dan foto2 (lumayan bikin keringetan juga malem-malem), akhirnya kita berhenti di pool tempat kita nyewa odong-odong tadi. Gue sempet minta tolong abangnya buat fotoin kita berdua dengan odong-odong tadi sebagai kenang-kenangan. Gokil fotonya gak blur masbro! Sepertinya abang2 disana udah terlatih buat motoin orang, gak kayak mbak2 yang di restoran kalo kita minta foto suka ngeblur, tapi akhirnya ngebiarin aja karena gak enak nyuruh lagi :)))







Selesai foto-foto, kita mutusin buat jajan. Disini banyak banget yang jual bakso bakar, dan kita penasaran bedanya apa sama bakso bakar yang di jakarta. Satu tusuknya 2rb kalo gak salah, trus kita beli 5. Kita makan sambil jalan lagi keliling-keliling, tujuannya sih nyari tempat makan berat. Ternyata bakso bakar yang kita beli itu enaaaaaaaaaaaaak! Bumbunya kacang, pedes gurih gitu. Dan masih anget pula, enak deh pokoknya. Jadi pengen nambah. Tapi kata Jabbar kita harus makan berat dulu. Sebelum mutusin buat nyari tempat makan, gue memastikan Jabbar membawa uang yang cukup, soalnya semua uang dipegang dia. Gue cuma bawa kartu ATM sih. Dan ternyata mas yang hemat satu ini cuma membawa uang secukupnya dan kita gak punya duit cash buat makan ataupun naik becak balik :( hahahaha akhirnya kita sibuk nyari ATM. Nanya tukang parkir, kang becak, katanya jauh di daerah sini, harus naik becak. Karena udah capek keliling2 buat mastiin gak ada ATM yang bisa dijangkau dengan kaki, akhirnya kita memutuskan buat naik becak tapi yang mau menerima sisa uang kita (12rb). Akhirnya ada bapak yang berbaik hati, kita diantarkan ke ATM terdekat dan kembali ke alun-alun lagi. Sampai di laun-alun, kita muter lagi buat nyari nasi dan ternyata........ entah kenapa di dekat situ ternyata ada ATM, meski bukan ATM yang sama dengan kartu debit gue. Haisshh.. sepertinya kita emang terlalu capek jadi males buat muter2 sebelum naik becak tadi.


Kita pun memutuskan untuk makan di angkringan, karena hujan mulai gerimis. Jadi lebih baik makan di tempat yang ada atapnya. Abis makan sih tadinya gue pengen nongkrong dulu, tapi kenyataannya abis makan ya ngantuk. Bawaan umur kali, jam 9-an aja badan rasanya pengen gelesoran kalo liat aspal. Kita pun cabut naek becak, dan beruntungnya kita dapet abang becak yang doyan ngobrol. Kita lewat sepanjang daerah keraton yang sepi, dan dia mulai nyeritain tentang kenapa daerah itu sepi kalo udah malem, tentang betapa mistisnya keraton kalo udah malem. Malah kita ditanya mau lewat atau gak, karena dia berani aja nganterin tapi gak mau nemenin. Hahaha sompret.. kita juga gak mau lah. Si bapak terus cerita sampai kita tiba di rumah sepupu gue. Sampai bertemu lagi, bapak. Semoga rezeki selalu dilimpahkan padamu :)


Pagi lagi, 3 Mei 2014, hari terakhir di Jogja,

Bangun tidur kali ini rasanya males, males balik lagi ke Ibukota, males rutinitas kantoran lagi seperti biasa. Hehehehe. Kereta api kita untuk pulang hari ini dijadwalkan jam 3 sore, masih banyak waktu sebenernya untuk jalan2 di Jogja. Hari ini sih rencananya kita mau beli oleh2 di pusat bakpia khas Jogja, terus makan di salah satu tempat makan yang Heitz di Jogja, House of Raminten. Setelah googling untuk menuju tempat sentra bakpia, ternyata naik becak dari malioboro dengan tarif 10rb rupiah. Sampai di malioboro ke arah dagen, ternyata memang banyak kang becak yang menawarkan diri untuk menuju sentra oleh2. Setelah terjadi tawar menawar, gue dan Jabbar pun naik becak. Sampai disana kita langsung beli bakpia, dan minta anter abangnya lagi ke House of Raminten. Gak terlalu jauh sih, kita juga bisa ngelewatin kota Jogja yang belom pernah kita lewatin. Seruu! Gue fikir House of Raminten itu cukup besar, tapi ternyata cuma rumah yang bertingkat, dan gak terlalu besar. Tapi juga gak sempit, namun suasananya memang temaram. Padahal kita datang siang hari.


Di depan house of raminten ini ada foto si pemilik, namanya ibu Raminte kalo gak salah. Ada ruang tunggu juga buat waiting list, disediakan tv. Kita milih untuk makan di dalem, karena di luar agak panas rasanya. Masuk ke bagian dalam, ternyata memang suasananya unik, bau kemenyan banget. Gue dan Jabbar milih duduk yang lesehan, sambil memperhatikan lingkungan sekitar yang memang dirasa sangat unik. Banyak ornamen2 khas jawa, wangi-wangian, patung, furniture nya pun disesuaikan dengan konsep cafe nya. Berhubung waktu kereta kita masih ada 3-4 jam lagi, Jabbar memutuskan untuk sambil kerja disini, nulis artikel. Tapi karena laptopnya lobet, kita minta tolong dicas dulu, soalnya di dalem gak ada colokan.







Sembari nunggu laptop penuh, kita pesen makanan dan minum dulu. Gue pesen es cendol sama ayam yang ditaro dalem bambu (lupa namanya, dipanggang gitu). Jabbar pesen jus alpukat sama nasi rawon. Harga makanannya cukup murah menurut gue, terjangkau bangetlah. Rasanya juga lumayan enak, emang khas jawa gitu. Selsai makan dan foto-foto, Jabbar mulai ngetik buat kerjaannya, dan gue juga cuma main HP. Sekitar jam 12, Jabbar udah ngajak ke stasiun, padahal gue bilang nanti aja masih lama. Tapi dia bilang gak enak lama2 di house of raminten, dan takut juga nanti macet atau apa. Akhirnya kita pun naik becak lagi ke lempuyangan, yang ternyata jaraknya juga dekeeeet! Pfffttt jam 1 kita udah nyampe di stasiun deh.

Gue memutuskan untuk solat zuhur dulu, sembari nunggu kereta dateng. Ternyata bener firasat Jabbar, kalo ada baiknya kita sampai stasiun lebih cepet. Selesai gue solat, eh ujan angin bok di Jogja! Lumayan lama juga, tapi untungnya berhenti sebelum kereta kita dateng. Eh ada cerita lohh.. ada yang ngambek pas nungguin kereta dateng. Jadi ceritanya gue abis solat, dan dia ngomong ngajak becanda tapi karena gue fokus maen HP jadi mungkin jawabnya ketus. Eh abis itu doi dieeem sampe gue nyadar ada yang salah, katanya gue jutek banget dan gak bisa diajakin becanda lagi. Hehehe maap bee,akhirnya setelah aku bujuk-bujuk lagi dia mau senyum lagih :)

Teng tong.. bunyi pengumuman bahwa kereta Progo ke arah jakarta dateng tuh. Sebelum naik ke peron, kita beli cemilan dulu di jalan, takut laper. Soalnya diperkirakan kita nyampe jakarta tengah malem menjelang pagi buta. Selesai beli cemilan, kita langsung masuk gerbong dan nyari tempat duduk. Seperti biasa, gue selalu duduk di dekat jendela, dan Jabbar dipinggir hehe. Nah kebetulan kali ini di depan kita 2-2 nya cowok ABG gitu, jadi rada cuek kali ya. Kereta pun beranjak pulang menuju Jakarta jam 3.30 sore. Dadah Jogja.. sampai bertemu lagi yah :)

Belum lama kereta jalan, ujan turun lagi dari langit pemirsah! Intinya sepanjang jalan itu ujannya ada terus, tapi kadang berhenti sih. Jabbar tidur, gue masih sempet liat pelangi sebelum magrib. Seneng!


Perjalanan kita juga sempet terganggu karena lampu gerbong kita mati, berhenti lumayan lama di stasiun Cirebon. Tapi alhamdulillah akhirnya lancar-lancar aja sampe jakarta.. Kita turun di stasiun Jatinegara karena dirasa lebih dekat ke kosan gue. Nyetop taksi, akhirnya kita menuju ke kosan.. sampai di kosan Jabbar nganterin di depan pintu, dan dia pun kembali ke kampus dulu buat ngambil motor baru balik ke rumahnya. Hwaaahh.. perjalanan ke luar kota pertama kali ini begitu menyenangkan. Semoga masih diberi kesempatan dan kesehatan untuk bisa melihat kuasamu ya, Tuhan :)

Aamiin ya Rabbal 'alamiin.

With love,

Jabbar & Butet

Share:

Mar 26, 2014

Been There Done That

Tuhan memang maha adil. Selalu menciptakan kebahagiaan beriringan dengan kesedihan, atau mungkin setelah kesedihan ada kebahagiaan? Katakanlah mereka selalu bergantian, dengan tujuan mungkin mengingatkan. Kali ini mungkin aku jadi sasaran Tuhan untuk diingatkan, bahwa setiap kesedihan pasti ada kebahagiaan menanti di ujung jalan.
Aku selalu diajarkan oleh Ibu dan Bapak ku untuk selalu berbuat baik kapan dan dimana saja, kepada siapa saja. Bapak juga tipe orang yang sangat berjiwa sosial, tidak jauh berbeda dari ibu. Namun, Bapak juga selalu mengingatkanku untuk jangan terlalu berhubungan sangat dekat dengan siapapun, baik itu teman sejenis ataupun lebih2 lain jenis. Alasannya, bapak bilang bahwa kita hanya harus sangat dekat dengan diri kita sendiri, keluarga, dan Tuhan, karena mereka ini-lah yg tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian. Nasihat Bapak ada benarnya, aku pernah dikhianati oleh org yg sangat dekat denganku. Sakitnya sampai ke ulu hati, butuh ribuan hari untuk melucuti nyeri. 

26 maret 2014, pukul 10.50 p.m. 

Sahabatku, ini untukmu. Engkau datang sepaket dengan Cinta-ku. Engkau memutuskan pergi, dan tak mau ada aku lagi. Ini bukan pertama kali, namun entah kenapa rasa nyerinya tetap sampai ke ulu hati. Isakan tangis seakan mengiris setiap kenangan yg berbaris, aku kalah. 
Sahabatku, tak ada hal yg paling bahagia selain bisa berbagi suka-duka hidup 3thn ini denganmu. Lepaskanlah manusia kerdil ini yg hanya mengacaukan hidupmu yg butuh ketenangan. Meski sakitku kali ini perih sekali, aku tetap sadar bahwa ini salahku sendiri. Maaf mungkin tak cukup mewangi untuk kau ciumi, malah kau ludahi. Atas nama bahagiamu, aku turuti.

Cinta-ku, maafkan aku. Engkau datang sepaket dengan sahabat-ku. Urat nadiku. Ketika ia pun memilih pergi, maka tak layak aku menjagamu. Karena setiap aku bersamamu pasti akan ada ingatan tentang Sahabatku. Rasanya tidak sanggup untuk terus seperti itu. Sebelum semua terlalu jauh, aku melepaskanmu. Terima kasih untuk 1500-an hari yg sudah dijalani, berbagi. 

Rawamangun, 26 Maret 2014, 11.24 p.m.

Aku pergi. 



Share: