Aug 8, 2011

Terimakasih, Bunda.

Seperti biasa, menjelang senja bunda selalu menghubungiku. Entah itu sekedar menanyakan sedang apa dan dimana melalui pesan singkat ataupun lewat telepon langsung. Kebiasaan bunda ini tidak hanya bermula sejak merantaunya diriku ke Jakarta. Sejak aku beranjak besar di Medan, kota kelahiranku, bunda selalu seperti itu. Tak heran, bunda berlaku seperti itu karena dibiasakan oleh ayahku, sang pemimpin rumah tangga bunda. Meski terkadang kesal, terkadang aku merasa "kehilangan" jika bunda tidak melakukan "kebiasaan" beliau.

Siang ini bunda menghubungiku via telepon genggamnya yang merupakan hadiah dariku beberapa tahun silam. Begitulah bunda, selalu saja menjaga barang2 yang diberi oleh anaknya, meski barang tersebut sudah "jadul". Tidak seperti anaknya, bunda tidak terlalu ambil pusing dengan kemajuan teknologi. Menurut beliau, jika kemampuan suatu barang masih berfungsi normal, mengapa harus diganti? "Tren/lifestyle tidak pernah berhenti, nak..untuk apa mengikuti arus?". Begitulah sederhananya bunda. Meski aku sering beradu argumen dengan beliau, tetapi beliau adalah wanita yang menempati urutan teratas dalam prioritas hidupku. Selalu, tangga prioritas hidupku tak pernah kususun ulang. Bunda selalu berada di atas, peringkatnya tak pernah turun meski aku sering dongkol jika kalah berargumen dengan beliau. pembicaraan di telepon siang ini tidak jauh berbeda. Bunda menanyakan kabarku dan adikku yg sedang berada di jakarta. Tak lupa bunda juga bercerita tentang apa yg telah dilalui beliau beberapa hari kemarin, karena sudah beberapa hari ini kami tidak saling menghubungi. Bunda sibuk dengan acara pengajiannya. aku juga sedang tidak mempunyai kredit dalam kartu CDMA ku.

Selalu, di pertengahan cerita, bunda selalu menyelipkan nasehat2. Apalagi ini bulan suci Ramadhan. Beliau tak luput menyuruhku untuk rajin beribadah. Yah, selalu saja aku hanya menjawab 3 huruf. "Iya". Walau dalam prakteknya masih saja kurang (maaf bunda T.T). Di tengah2 pembicaraan, mendadak bunda bertanya, "Kak, kamu minum suplemen apa selama bulan Ramadhan?biar tahan puasanya.." Aku yang tengah males-malesan di kasur spontan menjawab, "cinta aja cukup, bun..". Aku tak berfikir panjang dengan reaksi bunda, sementara adikku yang berada di sebelahku tertawa terpingkal-pingkal. Menyadari ucapanku yg spontan (telat), aku turut tertawa cengengesan. Bunda kontan menimpali, "Ah kamu ini..cinta melulu yang difikirkan. Awas kebablasan..sakit loh kalau terbang terlalu tinggi..". *Jleb!* Singkat padat tepat. sejenak aku bingung hendak berkata apa, meski perkataanku tadi murni hanya spontanitas saja. Tak pernah bermaksud untuk serius. Ah, kebiasaan berbicara ngasal ini perlu diubah secepatnya aku rasa. 

 Aku tahu bunda tidak terlalu suka anaknya "ngomong" cinta sebelum selesai menuntut ilmu. Walaupun begitu, sejak aku remaja, bunda tak pernah melarangku dekat dengan siapa saja. Termasuk lawan jenis. Aku selalu terbuka dengan bunda, meski bunda hanya senyam-senyum acapkali mendengarku bercerita tentang teman lawan jenisku. "Bunda selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anak bunda..kalau yang tidak baik ya akan dijauhkan Allah..jangan terlalu dalam dalam berperasaan ya nak..," itulah kata-kata yang paling sering bunda ucapkan ketika aku mulai kelihatan terlalu mengagungkan "cinta".

Akhirnya dengan tertawa kecil aku mencoba menjelaskan kepada bunda, "Bukan bun, bukan cinta yg itu. Bisa aja kan cinta sama Allah, Rasulullah, keluarga, temen..hehehe". Aku tau bunda di seberang pulau sana mesem-mesem dengar kata-kataku. Mungkin bunda tak ingin aku malu terlalu lama, maka bunda mengganti topik pembicaraan. Kali ini tentang Aira, keponakanku satu-satunya yang ngegemesin. Meski pembicaraan telah berganti topik, otakku masih melayang-layang memikirkan perkataan spontan-ku tadi, serta peringatan bunda. Semua campur aduk di kepala, menunggu jalan keluar. Karena sangat menghargai bunda, aku coba terus mengikuti alur pembicaraan beliau. Hingga tiba saatnya ia ingin berbicara dengan adikku,telepon genggam kuangsurkan ke genggaman si gendut (panggilanku kepada adik-red). 

 Mulailah aku berfikir tentang percakapanku barusan dengan bunda. Sendiri di kamar, dengan tatapan menerawang ke langit-langit kamar. Aku mencoba menelusuri arti perkataan bunda tadi. "Apa benar yang aku fikirkan hanya seputar cinta? Belakangan ini sepertinya iya..". Entah itu pada siapa, aku tak tahu. Yang terasa hanyalah merasa terlalu berlebihan menyikapi suatu peristiwa belakangan ini. Apalagi, terkait masalah hati.
Bunda mengingatkanku, memukulkan palu godam tepat di otak belakangku. Seketika membuatku tersadar, bahwa cinta bukanlah satu-satunya yang harus dijadikan "asupan" kebahagiaan di dunia. Bahwa cinta tidak perlu dibawa terlalu dalam. Bahwa semua yang datang pasti akan hilang. 

Kebahagiaan bukan hanya seputar masalah cinta. Kebahagiaan itu dicipta, bukan hadir sendiri. Jangan menjadikannya sandaran, meski kita tak mungkin bisa hidup tanpa kehadirannya.
 
Pelajaran : Jangan menganggap cinta sebagai kuasa. bersikaplah biasa, berperasaanlah dengan sederhana. karena ketika itu tak lagi ada, kau masih punya yang luar biasa :)

*catatankasar, Rawamangun 08 Agustus 2011

Love,



Share:

0 comments:

Post a Comment